Sudah berapa minggu terakhir ini sering kali berita ditelevisi menayangkan tentang si dukun cilik, Ponari. Seorang anak kecil yang masih duduk di sekolah dasar yang tiba-tiba menjadi sangat tenar dikarenakan hanya karena sebuah batu seukuran genggaman tangannya. Diberitakan bahwa batu itu jatuh tepat disebelah Ponari entah dari mana setelah terdengar suara petir dan konon kabarnya batu itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Entah bagaimana berita itu tersebar sehingga banyak orang yang tahu yang membuat rumah Ponari kebanjiran orang-orang yang mau berobat dan merasakan khasiat dari batu itu.
Secara ilmiah sangatlah tidak bisa dibuktikan, bahwa dengan hanya menyelupkan batu kedalam segelas air dan meminumnya dapat menyembuhkan penyakit. Apalagi batu yang tiba-tiba jatuh entah dari mana ketika adanya petir.
Ada seorang teman bertanya, bagaimana dengan adanya orang-orang yang meminum air batunya Ponari dan kemudian sembuh, apakah ini karunia dari Allah atau ada kekuatan lain selain kekuatan Allah. Yang seharusnya diyakini adalah bukannya berapa jumlah orang yang sembuh karena batunya Ponari, tapi dilihat dari apakah cara-caranya sesuai dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Tidaklah benar menyakini kekuasaaan Allah hanya dari sesuatu yang tampak. Apakah dengan banyaknya orang yang sembuh itu menandakan bahwa ada kekuasaan Allah disana. Apakah dengan adanya buah yang bertulisan asma Allah kemudian menyakini bahwa islam itu adalah agama yang paling benar. Tapi seandainya ada buah yang bergambar simbol dari agama lain, lalu kemudian membalikan keyakinan kita. Apakah ketika ada bencana alam yang meluluhlantahkan bangunan yang ada dan hanya satu masjid yang berdiri tegak, kemudian menyakini bahwa islam itu agama yang paling benar. Tapi seandainya dikejadian lainnya hanya ada satu rumah ibadah agama lainnya yang berdiri tegak, kemudian menggoyahkan iman kita tentang kebenaran islam. Sangatlah sempit apabila keislaman kita berakar hanya dari sesuatu yang tampak.
Berkaitan dengan dukun cilik, Ponari. Apakah dengan banyaknya orang yang sembuh kemudian meyakini bahwa itu adalah sesuatu yang benar. Apalagi sudah bisa dipastikan bahwa praktek dukun cilik itu jauh dari nilai-nilai syariah islam, jauh dari apa yang pernah dicontohkan Rasulullah dalam melakukan pengobatan. Adalah syirik apabila meyakini kesembuhan berasal dari benda-benda bertuah atau dianggap sakti yang secara ilmiah tidak bisa dibuktikan.
Yang menjadi perhatian saya adalah banyaknya orang-orang yang datang ke rumah Ponari dan berharap mendapatkan kesembuhan dari kesaktian batu tersebut, termasuk ibu-ibu berjilbab yang notabene termasuk umat islam dan jumlahnya pun relatif banyak. Ada apa dengan umat islam di Indonesia. Apakah masih banyak dari umat islam di Indonesia yang mempercayai hal-hal klenik. Apakah mereka mengerti bahwa hal semacam itu mendekati hal yang syirik atau memang sudah termasuk syirik. Mereka mungkin mengerti bahwa kesembuhan itu datangnya dari Allah, tapi mengapa selalu berdalih bahwa ini adalah caranya saja tapi yang menyembuhkan tetaplah Allah. Dalih-dalih seperti inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang makin jauh dari ajaran Al-Qur’an dan makin jauh dari apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Yang pada akhirnya islamnya hanya pada KTPnya saja.
Ada satu jawaban dari orang-orang yang datang ke tempat Ponari yang menjadi perhatian saya yaitu berkaitan dengan biaya pengobatan yang murah. Ini menandakan bahwa ternyata kemiskinan dapat menggerogoti keimanan seseorang. Sungguh malangnya nasib orang-orang yang menjual keimanannya hanya untuk mendapatkan sebuah kesembuhan yang belum tentu didapatkannya apalagi sudah jelas bahwa itu adalah perbuatan yang jauh dari syariah islam.
Yang menjadi lucu dimata saya adalah ketika si dukun cilik Ponari mengalami kelelahan dan harus dirawat dirumah sakit. Mengapa tidak dengan batunya saja untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ternyata dukun juga manusia…
Ponari, tetaplah ponari. Seorang anak sekolah dasar yang mungkin tidak mengerti sama sekali dengan apa yang sejauh ini melibatkan dirinya. Seorang anak kecil yang mungkin hanya manggut-manggut saja ketika diajak berkeliling dengan digendong oleh anggota keluarganya sambil menyelupkan batu yang ada ditangannya kedalam beribu-ribu gelas. Seorang anak kecil yang mungkin tidak mengerti bahwa ternyata dia hanyalah sebuah objek pemanfaatan dari orang-orang terdekatnya. Wallahu alam bish-shawab.
Sesungguhnya apabila ada kebanaran dalam tulisan saya ini, itu semata-mata datangnya dari Allah. Dan apabila ada kesalahan didalamnnya, itu pasti datangnya dari saya. Seseorang yang mesti perlu banyak belajar dan diingatkan.
DIarsipkan di bawah: Islam | Ditandai: batu ajaib, keimanan, pengobatan, ponari, syirik




bikin minuman kaleng ponari sweat:
http://ekojuli.wordpress.com/2009/02/20/ponari-sweat/
Mungkin ada sebuah penjelasan yang logis. Seorang peneliti Jepang terkenal, Dr. Masaru Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air dengan membekukan air pada suhu -25 derajat Celsius dan menggunakan alat foto berkecepatan tinggi. Menurutnya air zam-zam (yang merupakan obat) memiliki bentuk kristal paling indah. Ia berhasil menggunakan kekuatan air untuk pengobatan dengan menemukan efek gelombang energi yang dia sebut sebagai HADO (energi atau kumpulan getaran yang ada pada sebuah benda). Dengan HADO ini Dr.Masaru memformat efek energi air untuk mengobati berbagai penyakit. Peneliti dari Unair diberitakan meneliti air yang telah dicelupkan batu Ponari dan menemukan hasil bahwa air tersebut memiliki bentuk kristal yang indah dan berbeda dengan bentuk kristal air yang sama sebelum dicelupkan. Sayang tidak dipublikasikan bagaimana bentuk kristalnya, apakah ada kemiripan dengan kristal air zam-zam atau tidak.